Copyright © Life,Laugh,Love
Design by Dzignine
Rabu, November 17, 2010

Perbedaan Darah Haid dan Isihadhah

Makalah Agama
Perbedaan Darah Normal, Darah Haid,dan Darah Istihadhah


Disusun Oleh :

Ranum Muntazia 

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNG KARANG
PROGRAM STUDI KEBIDANAN METRO
TAHUN 2010

yup, ini adalah tugas Agama saya tentang Darah-darah Itulah, nah.. saya posting kesini supaya lebih mempermudah aja, sekaligus buat arsip hehe :D..
tulisan ini saya ambil dari Internet (digabung2 gt), ada yang inspirasi sendiri + dari Buku.. so.. Keep Reading all~ :D

Pendahuluan

          Dewasa ini banyak orang kurang begitu mengerti tentang perbedaan darah haid, darah istihadhah, dan darah nifas. Tapi mereka tentu tahu apa itu darah normal. Ketiga jenis darah diatas pun keluarnya dari satu jalan yang sama. Lalu, apakah perbedaannya ? ya, perbedaan antara ke tiga jenis darah diatas, pertama tentu saja dari namanya, yang kedua berbeda pula sebab keluarnya yang mengakibatkan berbeda pula hukum-hukumnya dalam Islam.
Oleh karena itu, mari kita coba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas supaya kelak tidak terjadi kesalahpahaman lagi mengenai ketiga jenis darah di atas. Sebab, ada wanita yang sudah belajar namun masih banyak yang salah. Kaum wanita wajib belajar tentang hukum-hukum haid dan istikhadhoh.

Pengertian

  1. Darah Normal

Darah berasal dari kata "haima", yang berasal dari akar kata hemo atau hemato. Merupakan suatu cairan yang berada di dalam tubuh, ia berfungsi mengalirkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh, mengirimkan nutrisi yang dibutuhkan sel-sel, dan menjadi benteng pertahanan terhadap virus dan infeksi.

Jenis darah perempuan yang keluar dari tempat khusus:
  • darah suci : darah keperawanan
  • darah haidh : akan dibahas
  • darah istihadhah : akan dibahas

  1. Darah Haid

Darah haid adalah darah yang merupakan suatu ketetapan untuk seorang wanita. Darah tersebut keluar bukan karena habis melahirkan tapi merupakan tanda bahwa wanita tersebut sudah menginjak dewasa. Darah tersebut rutin keluar setiap bulannya. Keluarnya darah haid menunjukkan sehat dan normalnya si wanita. Sebaliknya, jika darah haid tidak keluar itu menandakan ketidaksehatan dan ketidaknormalan seorang wanita.

Makna ini disepakati oleh ahli ilmi syar’i dan ilmu kedokteran, bahkan dimaklumi oleh pengetahuan dan kebiasaan manusia. Pengalaman mereka menunjukkan akan hal tersebut. Karena itulah ketika memberikan definisi haid, ulama berkata bahwa haid adalah darah alami yang keluar dari seorang wanita pada waktu-waktu yang dimaklumi.

Umur Haid

Seorang wanita mungkin dapat merasakan haid jika sudah berumur 9 tahun tapi, tidak harus sempurna 9 tahu n, boleh kurang asal kurangnya tidak lebih dari 16 hari.  Kalau mengeluarkan darah sudah termasuk haid, apabila darah tersebut sudah memenuhi tiga syarat bagi darah haid, yaitu :
1.      Tidak kurang dari 24 jam.
2.      Tidk lebih dari 15 hari.
3.      bertempat pada waktu mungkin/bisa haid.
Apabila jika mengeluarka darah kurang dari umur tersebut itu merupakan darah istihadhoh.
(Ket. Bajuri juz 1 hal 108)

Sifat Darah Haid

Warna darah haid ada 5 macam :
1.      Hitam (warna ini paling paling dominan)
2.      Merah
3.      Abu-abu (antara merah dan kuning)
4.      Kuning
5.      Keruh (antara kuning dan putih)

Maka kalau ada cairan keluar dari vagina tetapi warnanya bukan salah satu dari warna diatas, seperti cairan yang keluar sebelum/sesudah haid, ketika sakit keputihan maka jelas ini bukan haid, oleh karena itu tetap diwajibkan sholat.

Sedangakan sifa-sifat darah (selain warna) ada 4 macam :
1.      Kental
2.      Barbau
3.      Kental sekaligus bau
4.      Tidak kental dan Tidak bau

Perkara yang Haram Bagi Wanita Haid

Waniita yang sedang haid diharamkan menjalankan :

1. Shalat dan Puasa

Wanita haid diharamkan untuk mengerjakan shalat dan puasa, baik yang wajib maupun yang sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengabarkan hal ini ketika ada wanita yang mempertanyakan keberadaan kaum wanita yang dikatakan kurang agama dan akalnya, beliau bersabda :

"Bukankah jika wanita itu haid ia tidak melaksanakan shalat dan tidak puasa. Maka itulah yang dikatakan setengah agamanya". (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 304, 1951 dan Muslim no. 79)

Adapun puasa wajib (Ramadlan) yang dia tinggalkan harus dia qadha (ganti) di hari yang lain saat suci, sedangkan shalat tidak ada kewajiban untuk mengqadhanya, berdasarkan hadits Aisyah radliallahu’anha, ketika ada yang bertanya kepadanya: "Apakah salah seorang dari kami harus mengqadla shalatnya bila telah suci dari haid ?" Aisyah pun bertanya dengan nada mengingkari: "Apakah engkau wanita Haruriyah? Kami dulunya haid di masa Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau tidak memerintahkan kami untuk mengganti shalat". (HR. Bukhari no. 321)

Dalam riwayat Muslim Aisyah mengatakan: "Kami dulunya ditimpa haid maka kami hanya diperintah mengqadha puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha shalat". (HR. Muslim no. 69)'

2. Sujud Syukur
3. Sujud Tilawah
4. Thowaf
5. I’itikaf (berdiam dalam masjid)
6. Masuk majjid kalau takut mengotori masjid
7. Membaca Al-Quran
8. Menyentuh Al-Quran
9. Bersuci
10. Bersetubuh
11. Dijatuhi talaq
12. Shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Wanita haid tidak disyariatkan untuk mengganti shalat fardhu yang tidak dikerjakannya selama masa haid.


Mandi Haid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radliallahu’anha :

"Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari yang engkau biasa haid padanya, dan jika telah selesai haidmu mandilah dan shalatlah". (HR. Bukhari no. 325)

Yang wajib ketika mandi ini adalah minimal meratakan air ke seluruh tubuh hingga pokok rambut. Dan yang utama melakukan mandi sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau ditanya oleh seorang wanita Anshar tentang tata cara mandi haid. Beliau sebagaimana dikabarkan Aisyah bersabda :
"Ambillah secarik kain yang diberi misik (wewangian) lalu bersucilah dengannya". Wanita itu bertanya: "Bagaimana cara aku bersuci dengannya ?" Nabi menjawab : "Bersucilah dengannya". Wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Nabi menjawab: "Subhanallah, bersucilah". Aisyah berkata: Maka aku menarik wanita tersebut ke dekatku lalu aku katakan kepadanya: "Ikutilah bekas darah dengan kain tersebut". (HR. Bukhari no. 314, 315 dan Muslim no. 60)

Atau lebih lengkapnya dalam riwayat Muslim (no. 61) bahwasanya Asma bintu Syakl bertanya tentang tata cara mandi haid maka beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

"Salah seorang dari kalian mengambil air dan daun sidr (bidara) lalu ia bersuci dan membaguskan bersucinya. Kemudian ia tuangkan air ke kepalanya dan ia gosok dengan kuat hingga air tersebut sampai ke akar-akar rambutnya, kemudian ia tuangkan air ke atasnya. Kemudian ia ambil secarik kain yang diberi misik lalu ia bersuci dengannya…". (HR. Muslim no. 61)

Apabila wanita haid telah suci dari haidnya di tengah waktu shalat yang ada, wajib baginya untuk segera mandi agar ia dapat menunaikan shalat tersebut pada waktunya. Apabila ia sedang safar dan tidak ada air padanya atau ada air namun ia khawatir bahaya bila memakainya atau ia sakit yang akan berbahaya bila ia memakai air, maka cukup baginya bertayammum sebagai pengganti mandi hingga hilang darinya udzur.


  1. Darah Istihadhah

Istihadhah adalah darah selain haid dan nifas, yaitu darah yang tidak memenuhi syarat-syarat haid dan nifas. Sudah diterangkan bahwa darah yang tidak memenuhi persyaratan darah haid yaitu : darah yan keluar sebelum umur 9 tahun atau sudah umur 9 tahun tetapi pada masa tidak boleh haid, atau tidak mencapai 24 jam atau melebihi 15 hari, maka dianggap haidnya 15 hari selebihnya Istihadhah.
            Akan tetapi masih campur, yakni sebagian haid sebagian Istihadhah. Wanita mengeluarkan darah lebih 15 hari itu dinamakan Mustahadloh.

            Shalat bagi orang Istihadhah

Istihadhah itu tidak menghalangi pada perkara yang dilarang/haram karena haid. Oleh karena itu wanita yang Istihadhah tetap wajib sholat, puasa ramadhan, bolehmembaca Al-Qur’an,bersetubuh dll. Kemudian, karena hadastdan najisnya terus maka jika akan melakukan sholat fardhu harus melakukan 4 perkara terlebih dahulu, yaitu :
  1. Membasuh farji
  2. Menyumbat farji dengan kapas, supaya darah tidak menetes keluar.Oleh karena itu sumbatannya harus dimasukkan sampai bagian farji yang tidak wajib dibasuhpada waktu istinja’. Wajib menyumbat tadi kalau memang butuh disumbat dan tidak sakit serta tidak sedang puasa.
  3. Membalut farji dengan celana dalam atau sejenisnya.
  4. Bersuci dengan wudhu atau tayamum.

Semua perkara tersebut wajib dijalankan setiap akan shalat fardhu dan sudah masuk waktu sholat, dilakukan dengan tertib dan segera dan setelah srlesai bersuci supaya cepat-cepat sholat.
Setelah menjalanka perakra diatas dengan syah, seorang wanita boleh melakukan sholat fardhu dan sholat sunnah. Jadi, setiap akan sholat fardu harus menjalankan 4 perkara tersebut, meskipun balutannya tidak berubah dan darah tidak menetes keluar.

Tabel perbedaan darah Haidh dan Istihadhah
Sifat
Darah Haidh
Darah Istihadhah
Warna
dominan hitam
dominan merah
Sumber keluar
rahim
urat yang pecah
Kekentalan
kental
encer
Bau
tidak sedap
biasa
Setelah keluar
mencair (tidak menggumpal)
mungkin menggumpal

  
Daftar Pustaka

Ø      K.H. Muhammad Ardani Bin Ahmad.1992.Risalah Haid,Nifas dan Istihadhah.Surabaya.Al-Miftah
Ø      www.muslimah.or.id


0 komentar:

Poskan Komentar

Yang mau Comment monggoo:)

Total Tayangan Laman

Recent Posts

Recent comments

Followers