Copyright © Life,Laugh,Love
Design by Dzignine
Selasa, November 16, 2010

Role Play Konsep Kebidanan

UTS Semester 1
Konsep Kebidanan Role Play
Menfaat paradigma Dikaitkan
dengan Asuhan Kebidanan
(”Peran Bidan dalam Kehidupan Masyarakat”)









                                                         Disusun Oleh :

Nama        : Ranum Muntazia
NIM         : 10242025
Tingkat     : 1(satu)



 Di hari minggu yang indah ini, cahaya matahari memberikan sinar hangatnya pada Rumah Bersalin Ranum Suasana sejuk dan nyaman langsung terasa tatkala kita menginjakkan kaki di gerbang utama Rumah Bersalin tersebut.
            Hari ini suasana tampak terlihat ramai, banyak sanak saudara yang menjenguk seorang ibu pasca persalinannya semalam dan ada beberapa manula sedang berolahraga.

Di Kamar Jasmine 1, terdapat seorang ibu yang tampak kelelahan karena baru saja melahirkan anaknya, dialah ibu Vina, dan dengan ditemani ibu siti, sang mertua tampak sedang berbincang-bincang.               
Tiba-tiba …

Ibu Santi           :  tok..tok..tok.. (pintu diketuk) “Assalamu’alaikum.”
Ibu Vina           :  “Wa’alaikumsalam”.
Ibu Santi           :  “Vina apa kabar ? Bagaimana kabar bayinya ? terus proses persalinannya bagaimana ? Lancar kan vin !”
Ibu Vina           :  “Alhamdulillah san segala proses berjalan lancar.”
Ibu Siti             :  “ Iya nak, Bayi dan Ibunya juga sehat.”
Ibu Vina           :  “Wah.. senang mendengarnya!”

Tak lama kemudian …

Bidan               :  “Assalamu’alaikum.”
Ibu Siti, Ibu Vina, Ibu Santi       :  “Wa’alaikumsalam.”
Ibu Vina           :  “Pagi bu bidan, ada apa bu ?”
Bidan               :  “Oh.. sedang ramai tampaknya, maaf bu, sudah mengganggu acara bincang-bincangnya.”
Ibu Vina           :  “Ah.. tidak mengganggu kok bu. Ada apa bu ?”
Bidan               :  “Iya saya hanya ingin mengecek keadaan ibu Vina dan bayinya saja, apakah ada keluhan, begitu bu. Oia bagaimana kabar ibu saat ini ?
Ibu Vina           :  “Alhamdulillah baik bu bidan. Terima kasih ya bu, sudah menolong proses persalinan saya.
Bidan               :  “Bagus kalau begitu. Iya sama-sama bu, itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong sesama.”
“Oia bu saya hanya ingin mengingatkan, Wanita pasca persalinan harus cukup istirahat, ini juga baru 4 jam pasca ibu melahirkan sebaiknya ibu tidur terlentang untuk mencegah pendarahan. Setelah 6 jam ibu baru boleh miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah trombosis atau pembekuan darah.”
Ibu Siti             :  “Baiklah kalau begitu, saya akan terus ingatkan anak saya, bu bidan.”
Ibu Santi           :  “Maaf bu, saya ingin berpamit, karena saya ada acara yang sulit untuk ditinggalkan.”
Ibu Vina           :  “Buru-buru amat San?”
Ibu Santi           :  “Iya ni, udah ditelpon sama orang rumah juga Vin, yaudah saya izin pulang dulu ya. Permisi bu.”
Bidan               :  “Saya juga akan suruh perawat untuk selalu mengecek keadaan ibu, jadi ibu tidak perlu khawatir.”
Ibu Vina           :  “Terima kasih bu, wah ibu perhatian sekali ya, saya berharap kelak putri saya bisa menjadi bidan, yang sebaik dan seramah ibu.”
Bidan               :  “Ah tidak.. ibu bisa saja.”
                        Kalau begitu jangan lupa untuk beri imunisasi kepada si bayi sebab tubuh bayi belum punya daya tahan yang cukup untuk menangkal berbagai penyakit.
Ibu Vina           :  “Iya bu, lakukan yang terbaik untuk putrid saya, kira-kira jenis imunisasinya yang seperti apa ya bu ?”
Bidan               :  “Jenis imunisasi yang akan saya berikan seperti : Hepatitis B untuk Mencegah penyakit hepatitis B yang menyerang hati, Polio untuk Mencegah terkena polio, dan BCG untuk Mencegah penyakit TB (tuberkulosis).
Ibu Vina           :  “Ya bu, tidak apa-apa, yang penting bayi saya sehat, terima kasih bu.”

Selang beberapa menit …
Suster               :  “Assalamu’alaikum, permisi bu.”
Bidan               :  “Wa’alaikumsalam, iya ada apa sus ?”
Suster               :  “Maaf bu, di luar ada pasien, tampaknya ingin berkonsultasi dengan ibu.”
Bidan               :  “Oo.. ya sudah saya akan segera kesana, terima kasih ya sus.”
Suster               :  “Iya bu, permisi.”
Bidan               :  “Maaf bu, saya permisi dahulu, ada pasien yang membutuhkan saya.”
Ibu Vina           :  “Iya silahkan, terima kasih ya bu.”
Bidan               :  “Iya sama-sama bu, permisi.”

Di ruang kantor ibu Bidan…

Bu Arman         :  “Permisi bu.”
Bidan               :  “Ya silahkan masuk.”
(Bu Arman dan Pak Arman memasuki ruangan)
Bidan               :  “Ya, ada yang bisa saya bantu bu?”
Bu Arman         :  “Iya bu, saya datang kemari ingin berkonsultasi dengan ibu seputar kehamilan.”
Bidan               :  “Ya, Insya Allah bisa saya bantu, tampaknya ibu pasangan baru?”
Bu Arman         :  “Iya bu kami adalah pasangan pengantain baru, oleh karena itu kami ingin minta beberapa saran dari ibu, bagaimana cara-cara untuk mempersiapkan kehamilan, supaya kelak kami bisa menjadi ayah dan ibu yang baik.”
Bidan               :  “Bagus sekali usaha kalian bersdua, memang sudah seharusnya memiliki rencana seperti itu, selain itu kalian juga harus memiliki kesiapan untuk menyambut itu semua.”
Pak Arman       :  “Hmm.. contoh kesiapan yang seperti apa ya bu ?”
Bidan               :  “Diantaranya kesiapan mental, fisik, dan gizi, sebab generasi yang baik merupakan buah dari kesiapan orang tuanya.”
Bu Arman         :  “Baik bu, kami akan mengikuti saran ibu, karena kami juga menginginkan bayi yang sehat dan pintar.”
                        (Bu Arman memegang tangan Pak Arman)
Pak Arman       :  “Tolong bantu kami ya bu.”
Bidan               :  “Ya, saya akan bantu kalian dengan senang hati.”

Dengan ramah sang bidan memberikan nasihat-nasihat lainnya kepada kedua pasangan baru tersebut.

Bidan               :  “Ya, nasihat lainnya khusus untuk calon ibu, yang pertama kali perlu diperhatikan anda anda harus siap menghapasi perubahan bentuk tubuh, tapi tetap yakinkan diri bahwa perubahan tersebut hanya sementara.”
Bu Arman         :  “Iya saya siap menjalaninya.”
Pak Arman       :  “Dan saya juga akan terus beri dia support agar tidak stress.”
(Keduanya tersenyum ..)
Bidan               :  “Ya bagus sekali itu, kalian berdua pasangan yang serasi. Selain itu kalian harus sudah siap menjadi orang tua yang siap merawat anaknya. Jangan seperti pasangan muda lainnya, mereka hanya mau melahirkan tapi kemudian dibuang.”
Pak Arman       :  “Iya bu, kami sudah siap, dengan segala resikonya, dan akan berusaha untuk menjadi oranbg tua yang baik untuk anaknya.”

Bu Arman         :  “Iya bu.”
Bidan               :  “Baik, dan juga kendalikan stress ya, jangan merokok atau minum minuman beralkohol, karena itu berdampak negatif terhadap sang bayi, dan bisa menghambat pertumbuhan janin.”
Bu Arman         :  “Untungnya bu, suami saya bukan perokok.”
(Keduanya tersenyum kembali)

Bidan               :  “Bagus kalau begitu, jangan lupa rajin-rajin berolahraga, calon ayah dan ibu harus selalu mengkonsumsi makanan sehat untuk mendapat bayi yang sehat pula.”
Pak Arman       :  “Contoh makanan yang mengandung apa saja bu yang baik untuk persiapan kehamilan istri saya?”
Bidan               :  “Dimana makanan tersebut harus cukup akan kalori, protein, serat, asam folat, kalsium, zat besi dan air. Jangan terlalu banyak, tetapi jangan terlalu sedikit, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik nak.”
Bu Arman dan Pak Arman        :  “Baik bu.”
Bidan               :  “Nah apakah kalian sekarang sudah siap untuk menjalani itu semua?”
Bu Arman dan Pak Arman        :  “Ya, siap bu dan kami akan terus berusaha.”
Bu Arman         :  “Makasih ya bu atas sarannya, sangat membantu sekali.”
Pak Arman       :  “Iya bu, dengan begini saya jadi lebih siap untuk menghadapi kehamilan istri saya.”
Bu Arman         :  “Saya juga jadi tidak sabar untuk segera menimang bayi bu.”
                        (sambil mengelus-elus perutnya)
Bidan               :  “Iya sama-sama bu Arman, saran saya ibu jangan terlaklu memikirkan yang brat-berat, rileks saja bu, dan jalani sebagaimana semestinya, jangan lupa berusaha dan berdoa tentunya.”
Pak Arman       :  “Iya bu, saya usahaka untuk selalu mengingatkan dia, supaya jangan terlalu stress memikirkan hal tersebut.”
Bu Arman         :  “Iya Bu bidan.”
Pak Arman       :  “Tu kan Ma, jangan mikirin hal yang berat-berat ya ma, ntar mama bisa sakit.”
Bu Arman         :  “Iya pa, makashi ya pa uda perhatiin mama.”
Bidan               :  (menghela nafas sambil tersenyum)
“kalian berdua memang benar-benar pasangan serasi, saling mendukung satu sama lain. Kalau melihat kalian , saya jadi teringat masa saya muda dahulu.”
                        (ketiganya tertawa…)
Pak Arman       :  “Hahaha.. tidak bu, saya hanya berusaha untuk menjadi suami yang baik.”
Bu Arman         :  “Ih.. baru dibilang begitu dengan bu bidan udah “Ge-er”.”
Bidan               :  “Ada-ada saja kalian ini.” (sambil tersenyum)
Bu Arman         :  “Kalau begitu kami berdua permisi dulu ya bu, maaf sudah mengganggu waktu luang ibu.”
Bidan               :  “Tidak kok nak, ibu dengan senang  hati membantu kalian.”
Pak Arman       :  “Iya bu, terima kasih banyak ya bu atas sarannya.”
Bidan               :  “Sama-sama nak, jangan sungkan untuk konsultasi kemari ya, jika ada yang ingin kalian tanyakan seputar kehamilan.”
Bu Arman         :  “Iya bu.”
Bidan               :  “Yasudah, tetap berusaha dan berdoa ya.”
Bu Arman dan Pak Arman        :  “Iya bu, permisi bu.”
(keduanya saling berjabat tangan dengan bu bidan)
Bidan               :  “Alhamdulillah, senang rasanya bisa melihat pasien bahagia.”

                                    Sang bidan yang dikenal ramah dan baik hati ini berjalan keluar dari kantornya dengan perasaan bahagia dan meneruskan kembali aktivitas lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Yang mau Comment monggoo:)

Total Tayangan Laman

Recent Posts

Recent comments

Followers