Copyright © Life,Laugh,Love
Design by Dzignine
Kamis, Oktober 11, 2012

Nyeri saat Haid / DIsMENORE


A.  Pengertian Haid (Menstruasi)

Mestruasi  merupakan salah satu ciri, bahwa seorang wanita memasuki masa kedewasaannya. Nyeri haid kadang muncul sejak awal. Pada awal masa pubertas ini akan disusul dengan tanda-tanda lain, pada daerah dada dan pubisnya. Pada wanita dewasa, keluarnya darah selama masa haid bisa berarti bahwa darah tersebut tidak digunakan pada satu bulan sebelumnya, dan tidak lagi dalam komposisi prima untuk calon bayi. Bila tidak dikeluarkan dari tubuh akan memberikan makanan yang tidak optimal.

Hubungan seks masa menstruasi dilarang oleh Islam. Hal ini secara medis membahayakan wanita, karena rahim sedang lemah, dan dinding rahim mudah infeksi. Menstruasi disebabkan oleh pengurangan mendapatkan estrogen (fase pertama) dan progesteron (fase kedua) pada siklus haid ovarium. Selama menstruasi normal, sekitar 35 ml darah dan 35 ml cairan serosa hilang. Cairan menstruasi ini dalam keadaan normal tidak membeku, karena fibrinolisin dikeluarkan bersama endometrium yang nekrotik. Dalam tiga sampai tujuh hari setelah menstruasi mulai, perdarahan berhenti karena pada saat ini endometrium sudah mengalami epetelisasi penuh.

Siklus haid yang dikontrol oleh hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh indung telur itulah yang mempengaruhi perbedaan siklus haid pada setiap wanita, sehingga masa haid masing-masing wanita tidak sama. Kedua hormon ini bekerja sama dengan hormon-hormon lain seperti yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, hipofosis, anak ginjal dll. Seorang wanita harus mengalami siklus haid. Siklus haid wanita dikatakan terjadi setiap 28 hari dan ovulasi terjadi pada hari ke-14. Tetapi ada juga wanita yang siklus haidnya 33 hari. Pada dasarnya wanita memang mempunyai siklus haid yang satu dengan lainnya tidak sama. Bukan berarti tidak teratur.

B.  Gangguan Nyeri Haid (Dismenorea)

Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini bersifat subjektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai, namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan memuaskan.
Oleh karena itu hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak di perut bagian bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual maka istilah dismenorea hanya dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari unutk beberapa jam atau beberapa hari. Dismenorea menjadi dua yaitu :
1.    Dismenorea primer ( esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan dengan kelainan ginekologik.
2.    Dismenorea sekunder (ekstrinsik, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometrisis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri dan lain-lain).

C.  Dismenorea Primer

Dismenorea primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dismenorea primer terjadi beberapa waktu setelah menarche  biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa ual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas dan sebagainya.

Etiologi

Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab dismenorea primer, tetapi patofisiologisnya belum jelas dimengerti. Rupanya beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenorea primer, antara lain :

ü Faktor kejiwaan
Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenorea.


ü Faktor konstitusi
Faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor tersebut di atas, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor sepertia anemia, penyakit menahun dan sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya dismenorea.

ü Faktor obstruksi kanalis servikalis
Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenorea primer ialah stenosis kanalis servikalis. Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap sebagai fakrtos yang penting sebagai penyebab dismenorea.  Banyak wanita menderita dismenorea tanpa stenosis servikalis dan tanpa uterus dalam hiperantefleksi. Sebaliknya, banyak wanita tanpa keluhan dismenorea, walaupun ada stenosis servikalis dan uterus terletak dalam hiperantefleksi atau hiperretrofleksi. Mioma submukosum bertangkai atau polip endometrium dapat menyebabkan dismenorea kanera oto-otot uterus berkontraksi keras dalam usaha untuk mengeluarkan kelainan tersebut.

ü Faktor endokrin
Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenorea primer disebabkan oleh kontrkasi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan soal tomus dan kontraktiliras otot usus. Novak dan Reynolds yang melakukan penelitian pada uterus kelinci berkesimpula bahwa hormon esterogen merangsang kontraktilitas uterus, sedang hormon progesteron menghambat atau mencegahnya. Tetapi teori itu tidak dapat menerangkan fakta mengapa tidak timbul rasa nyeri pada perdarahan disfugsional anovulator, yang biasanya bersamaan denga kadar esterogen yang berlebihan tanpa adanya progesteron.

Penjelasan lain diberikanoleh Clitheroe dan Pickles, meraka menyarankan bahwa karena endometrium dalam fase sekresi memproduksi Prostaglandin yang menyebabkan kontraksi otot-otot polos. Jika jumlah prostaglandin yang berlebihandilepaskan ke dalam peredaran arah, maka selain dismenorea, dijumpai pula efek umum, sperti diare, nausea, muntah, flushing.



ü Faktor alergi
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismenorea dengan urtikaria, migraine atau asma bronkial. Smith menduga bahwa penyebab alergi ialah toksin haid. Penyelidikan dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa peningkatan kadar prostaglandin memegang peranan penting dalam etiologi dismenorea primer.

Satu jenis dismenorea yang jarang terdapat ialah pada waktu haid tidak mengeluarkan endometrium dalam fragmen-fragmen kecil, melainkan dalam keseluruhannya. Pengeluaran tersebut disertai denga rasa nyeri kejang yang keras. Dismenorea demikian itu dinamakan dismenorea membranasea. Keterangan yang lazim diberikan alah bawha korpus luteum mengeluarkan progesteron yang belebihan, yang menyebabkan endometrium menjadi desidua yang tebal dan kompak decidual cast  sehingga sukar dihancurkan. Keadaan ini sukar untuk disembuhkan.

D.    Penatalaksanaan
Penerangan dan nasihat

Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenorea adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi  mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah satu informasi mengenai data dan nyata atau takhayul mengenai hal ini perlu dibicarakan. Nasihat-nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup dan olahraga mungkin berguna. Kadang-kadang diperlukan psikoterapi.

Pemberian obat analgesic

Dewasa ini banyak beredar obat-obatan analgesic yang dapat diberikan sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi penderitaan. Obat analgesic yang sering diberikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin dan kafein. Obat-obat paten yang beredar dipasaran ialah antara lain ovalgin, ponstan,  acet-aminophen dan sebagainya.



Terapi hormonal

Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar dismenorea primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.

Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin

 Memegang peranan yang makin penting terhadap dismenorea primer. Termasuk disini indomestasin, ibuproten, dan naproksen, dalam kurang lebih 70 % penderita dapat disembuhkan atau mengalami banyak perbaikan. Hendaknya pengobatan diberikan sebelum haid mulai; 1 sampai 3 hari sebelum haid, dan pada hari pertama haid.

Dilatasikan alisservikalis

Dapat member keringanan karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya. Neurektomiprasakral (pemotongan urat saraf sensorik antara uterus dan susunan saraf pusat) ditambah dengan neurektomiovarial (pemotongan urat saraf sensorik yang ada di ligamentum infundibulum) merupakan tindakan terakhir, apabila usaha-usaha lain gagal. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Yang mau Comment monggoo:)

Total Tayangan Laman

Recent Posts

Recent comments

Followers